Selasa, 12 Juni 2018

IBU INI JUALAN PLASTIK KERESEK, AGAR ANAKNYA TIDAK JADI PENGEMIS

"Plastiknya, Om... Biar enggak hilang, Om, sendalnya," kata seorang wanita berkulit gelap di pelataran Masjid Istiqlal.

Berkali-kali ia menawarkan plastik kresek hitamnya ke orang-orang yang hendak menunaikan ibadah shalat Jumat. Namun kebanyakan orang yang lewat tidak menggubrisnya, sebagian hanya memberikan senyum seadanya sambil menolak tawarannya.

Meski begitu, perempuan itu terus melambaikan platiknya, di tangan lainnya ia membawa dua pak plastik lainnya yang belum ia buka. Kadang-kadang, orang yang iba melihatnya akhirnya berhenti untuk sekadar memberinya selembar uang Rp 2.000 atau Rp 5.000 untuk ditukarkan dengan satu atau dua plastik.



Perempuan bertubuh kurus itu bernama Ina (42). Sehari-hari ia berjualan plastik di pelataran Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. "Lumayan buat tambah-tambah makan,"  Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, Ina menghidupi keluarga kecilnya seorang diri. Dari berjualan plastik, Ina mendapatkan Rp 20.000-30.000 sehari, namun setelahnya ia juga harus membeli plastik lagi seharga Rp 4.500 isi 50 lembar plastik.

Ia tidak pernah mematok harga plastik yang dijualnya, sehingga penghasilannya pun sangat tidak tetap. "Sukarela saja orang mau kasih berapa," Terkadang, Ina juga berjualan kopi dan minuman lainnya saat ada kegiatan misalnya di Monumen Nasional. Namun berjualan kopi membutuhkan modal yang lebih banyak. Sehingga tidak setiap saat ia bisa berjualan kopi.

"Jualan kopi itu modalnya lumayan, bisa Rp 200.000 sekali jualan. Saya mana punya, jadi kalau lagi ada duit saja. Punya duit Rp 20.000, saya beliin plastik saja," untuk berjualan demi menghidupi anak saya. Saat berjualan kopi, Ina juga punya pengalaman pahit, yaitu ditertibkan oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Ketika itu, dagangannya yang masih utuh ludes diangkuti petugas. "Padahal untuk modalnya saya sudah ngumpulin lama, tahunya malah diangkut. Rugi banget," dan saya hanya bisa menerima dengan pasrah saja.

Karena itu, Ina seringkali berpikir berulang-ulang kali sebelum berjualan dengan modal yang tinggi. Meskipun keuntungan menjual kopi cukup besar, namun karena ada risiko ditertibkan ia tidak berani bila uang yang dimilikinya pas-pasan sebagai modal jualan, Saat tengah berbincang, seorang anak berambut keriting berseragam olahraga menghampiri Ina, kemudian mencium tangannya. Dengan senyum merekah, Ina menyambutnya hangat, kemudian menanyakan hari si anak.

Anak itu belakangan diketahui bernama Fenty (11), anak semata wayang Ina yang baru pulang sekolah. Ina bercerita, anaknya termasuk anak yang berprestasi di sekolah. "Rangking terus anak saya," makanya saya terus berjualan untuk ana saya berprestasi.

Karenanya, ia bertekad supaya anaknya yang kini duduk di bangku sekolah dasar tak harus menanggung beban keluarganya. "Saya enggak mau anak saya ngemis, kayak anak-anak lain. Bekerja juga enggak boleh, masih kecil. Mending fokus sekolah saja," Ina berharap, dengan memfokuskan anaknya bersekolah, suatu hari anaknya bisa mengangkat derajat keluarganya menjadi jauh dan akan bisa membanggakan bagi orang disekitarnya.

0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih