Kamis, 07 Juni 2018

4 Pemimpin Yang Patut Diteladani

Arti sebuah jabatan dan tanggungjawabnya dipahami betul oleh empat pemimpin di bawah ini. Para pemimpin ini benar-benar mengerti apa itu resiko jabatan. Mereka siap pada tanggungjawab yang melekat pada jabatan yang diembannya. Siapa saja pemimpin-pemimpin yang sikapnya pantas diteladani ini, Nusantaratv.com mencoba merangkum dari beberapa sumber untuk Anda.



1. Presiden Menolak Untuk Digaji.
FERNANDO LUGO MENDEZ bukan konglomerat atau politisi bergelimang harta. Mantan uskup ini hanya pekerja sosial yang kere. Tapi sungguh tak disangka, penganut sosialisme yang mendalami ajaran Pancasila dan pengagum pemikiran Bung Karno ini malah menolak mendapat gaji selaku Presiden Paraguay, yang diumumkannya pada malam sebelum pelantikannya.

Keputusan Lugo yang mencengangkan itu disambut gembira oleh ribuan pendukungnya. Namun, Presiden Ekuador Rafael Correa mengingatkan dengan cemas,” Begitu Lugo mulai mengubah berbagai hal, serangan akan dimulai.” Serangan dimaksud bakal berasal dari kalangan kapitalis, termasuk kekuatan politik yang berkiblat ke AS.

Sebagai tambahan, Gaji presiden Paraguay lebih kecil dibanding gaji anggota DPR-RI. Menurut kantor berita Associated Press, gaji presiden Paraguay adalah sebesar 4.000 dolar AS atau sekitar Rp.37 juta per bulan. Sangat kecil dibandingkan gaji anggota DPR-RI, yaitu sebesar Rp.49 juta per bulan.



2. Menteri Jepang Mengundurkan Diri Karena Tsunami Jepang.
Menteri Jepang, yang mengawasi pembangunan kembali daerah hancur akibat tsunami pada 2011 dan bencana nuklir Fukushima, Masahiro Imamura mundur setelah mengatakan bahwa lebih baik bencana tersebut melanda wilayah timur laut daripada Tokyo.

Tanggapan muncul beberapa minggu setelah Imamura memicu kemarahan pada jumpa pers dengan meremehkan orang yang meninggalkan Fukushima karena ketakutan setelah bencana nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl itu, lalu meneriaki seorang pewarta dan bergegas keluar ruangan.

Tanggapan Imamura itu memicu teguran langsung dari Perdana Menteri Shinzo Abe, yang meminta maaf atas namanya. Pengunduran dirinya yang cepat ditujukan untuk meminimalkan kerusakan pada pemerintah Shinzo Abe.



3. Presiden Perusahaan Kereta Api Hokkaido di Jepang Bunuh Diri karena terjadi kecelakaan kereta api.
Presiden Perusahaan Kereta Api Hokkaido di Jepang, Naotoshi Nakajima (64), memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ia merasa bersalah atas terjadinya kecelakaan kereta api di Hokkaido, pada bulan Mei 2011 lalu. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 35 orang luka-luka, meski tidak ada korban jiwa.

Nakajima meninggalkan surat bunuh diri dan kemudian menghilang. Mayat Nakajima baru ditemukan enam hari kemudian (18/9) di perairan Otaru, Hokkaido. Nampaknya Nakajima memilih bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut.

Dalam surat bunuh diri yang ditujukan kepada karyawannya, Nakajima menulis,
“Saya sungguh menyesalkan terjadinya kecelakaan kereta api tersebut dan memohon maaf sebesar-besarnya. Sebagai pegawai perusahaan kereta api, kita dipercaya untuk menjaga keselamatan para penumpang. Tugas itu harus kita letakkan di atas segalanya. Saya ingin kalian sebagai pegawai untuk selalu memikirkan keselamatan para penumpang. Saya ucapkan terima kasih pada kalian semua atas segala dukungan selama ini.”

Kasus bunuh diri, ataupun mundur dari jabatan pejabat publik adalah suatu hal yang lumrah di Jepang. Hal ini dilandasi oleh budaya panjang negeri mereka. Salah satu kode etik samurai misalnya, mengatakan bahwa “Hinkaku no Chikara”, atau pentingnya kemampuan menjaga harga diri.
Semakin tinggi jabatan seseorang, “hinkaku” atau harga diri, semakin penting. Apabila seseorang bersalah atau bertanggung jawab atas kesalahan publik, mereka tak segan untuk mundur, ataupun ekstrimnya, melakukan bunuh diri, seperti yang dilakukan Nakajima.
Lain negara tentu lain budayanya. Mudah-mudahan apa yang terjadi di Jepang dapat menjadi pelajaran, dan diambil hikmahnya.



4. Mengundurkan Diri Karena Mati Lampu.
Menteri Ekonomi Korea Selatan, Choi Joong-Kyung mengatakan akan mengundurkan diri setelah terjadi pemadaman listrik besar-besaran.

Kementerian Pengetahuan Ekonomi Korsel mengatakan Choi telah menghubungi Presiden Lee Myung-bak dan mengatakan dirinya akan segera mengundurkan diri selepas pertemuan kabinet.

Lee menerima pengunduran diri Choi tersebut namun meminta sang menteri untuk bertahan hingga Lee menemukan penggantinya.

Mati lampu terjadi selama beberapa jam di sebagian wilayah Korsel akibat udara panas. Akibatnya, ratusan orang terjebak di dalam lift, mematikan lampu lalu lintas, dan membuat pabrik tidak bisa melakukan aktivitas.

Choi telah meminta maaf atas pemadaman listrik yang terjadi. Menurutnya, kementeriannya kurang melakukan persiapan dengan baik.

Menurut The Korea Herald, rakyat yang merasa dirugikan bisa mengajukan klaim ganti rugi. Akibat mati lampu ini pemerintah menerima lebih dari 3.000 klaim dengan nilai total tuntutan sebesar 17 miliar won, atau sekitar Rp129,4 miliar.

0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih