Kamis, 14 Desember 2017

Aku Benci Terhadap Pamanku yang Cacat Mental Karena Ia Merebut Seluruh Perhatian OrTuku

Aku tinggal bersama dengan orang tua dan pamanku yang adalah seorang penyandang cacat mental. Sejak kecil aku tak pernah menyukai paman karena orang tuaku jauh lebih memperhatikan paman dibanding aku yang adalah putra tunggal mereka. Orang tuaku bahkan memarahiku ketika aku menyampikan ketidaksukaanku terhadapnya baik melalui ejekan maupun pukulan. Semakin hari aku pun semakin membenci paman!

sakong online - Ketika duduk di bangku SD, Paman selalu menunggu untuk menjemputku di gerbang sekolah. Semua teman - teman mentertawai paman, beberapa diantara mereka bahkan tak segan melemparinya dengan batu. Aku berusaha keras untuk menghindari paman, namun dia seperti kutu yang menempel, terus saja mengikuti kemanapun aku pergi sampai akhirnya aku dikenal dengan sebutan"keponakan si bodoh".



Ketika duduk di bangku SMP, tak peduli apapun yang paman lakukan untuk menarik perhatianku, aku hanya menganggapnya angin lalu. Tiada hari kulewati tanpa belajar, belajar. Aku berusaha keras untuk dapat masuk ke SMA terbaik yang ada di kota agar aku bisa tinggal di asrama, meninggalkan rumah dan menjauh dari paman yang kubenci ini.

poker cimb - Pucuk dicita, ulam pun tiba. Aku berhasil masuk di SMA tersebut. Disaat setiap murid menantikan waktu pulang ke rumah pada akhir pekan, aku malah berharap akhir pekan tak kunjung datang. Setiap kali aku pulang ke rumah, paman selalu menungguku di depan pintu gerbang. Dia akan berlari sekencang-kencangnya menghampiriku dengan muka sumringah kemudian membawakan semua barang - barangku ke dalam rumah. Entah mengapa ketika itu paman seakan beranjak dewasa, dia tak lagi terus mengekoriku. Paman selalu tinggal di dalam kamarnya ketika aku sedang belajar, seakan mengerti aku tidak mau diganggu.

Tak terasa tiga tahun sudah aku menikmati kebebasan hidup di asrama sekolah. Ketika kuliah aku semakin jarang pulang ke rumah. Aku menyibukkan diri dengan bekerja sambilan hingga kemudian aku pun mulai berpacaran dengan teman kuliahku. Aku tak pernah menceritakan perihal keluargaku terhadap pacarku, aku juga tak pernah memberitahu keluargaku bahwa aku telah mempunyai pacar. Suatu ketika pacarku ngotot minta untuk berkunjung ke rumahku. Karena dipaksa terus-menerus, aku pun akhirnya menyetujui untuk membawanya bertemu keluargaku sebulan kemudian.

Minggu itu juga aku memutuskan pulang ke rumah. Aku berencana memberitahu keluargaku bahwa aku hendak mengenalkan pacarku kepada mereka bulan depan. Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, akhirnya aku sampai . Aku melihat ayah, ibu dan paman sudah menungguku di depan gerbang. Seperti biasa, paman segera berlari menghampiriku. Ketika itu aku melihat ada sebuah mobil yang datang dari samping.

Belum sempat aku teriak memberitahu paman, tubuh paman telah terhempas sejauh beberapa meter. Tiba-tiba waktu seakan berhenti seketika, aku hanya diam terpaku melihat ibu menangis histeris sambil memeluk paman, sedangkan ayah menelepon ambulans dengan panik. Setelah 5 jam dioperasi, paman akhirnya meninggal.

0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih